Latest Post
21:17
Sejarah Singkat Hermeneutik (Hasan Sutanto)
1.
Sejarah
Singkat Hermeneutik
Hasan Sutanto,
Hermenutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: Gandum Mas, 2007),
Hal. 97-213
Penafsir Alkitab perlu mempelajari
sejarah hermeneutik, karena pada dasarnya seorang penafsir tidak telepas dari
pendahulunya, sejarah heremeneutik juga mengajar penafsir masa kini bersikap
rendah hati, dan tidak mudah merasa puas, sejarah Alkitab juga menunjukkan
bahwa sejak masa yang amat awal sudah ada yang mempengaruhi perkembangan
penafsiran biblikal.
Dalam sejarah penafsiran
Alkitab terdapat pola penafsiran yang yang berbeda-beda sepanjang zamannya
yaitu:
1.
Pola penafsiran orang Yahudi: dari Ezra sampai zaman
Tuhan Yesus
Kitab-kitab yang di kanon dalam kehidupan Yahudi
pada tahun 621 SM disebut Tanak yang terdiri dari Torah dan Ketuvim. Untuk
lebih mengenal penafsiran orang Yahudi, Ezra adalah tokoh yang hidup pada abad
ke-5 SM. Ezra adalah ahli Taurat atau Ahli Kitab, Dia boleh dipandang sebagai
pelopor penafsiran pada zaman itu. Pekerjaannya adalah mengajar dan menerjemah
karena banyak orang Yahudi hanya menguasai bahasa Aram dan tidak mengerti
bahasa Ibrani. Akibat dari banyaknya penindasan dan kebobrokan moral pada saat
itu sehingga mereka sangat membutuhkan hiburan dan kekuatan dari Kitab Suci.
Pada tahun 323 SM, orang Yahudi
berada dibawah kekuasaan Ptolemy I, jenderal yang diutus oleh Aleksandria,
tahun 167 SM mereka boleh menikmati kebebasan pada zaman Makabe, dan pada tahun
63 SM, bangsa ini dukuasai orang Romawi. Faktor ini menumbuhkan berbagai
penafsiran yang dapat disaksikan Karya Sastra zaman itu, beberapa karya sastra yang
patut disebutkan adalah Septuaginta (LXX), karya Philo, Kitab Gulungan Laut
Mati, Targum, midrash, kitab Apokrifa dan Pseudepigrafa orang Yahudi. Dengan
pengenalan seperti ini, boleh dikatakan paling tidak ada lima pendekatan yang
populer pada masa Yahudi-Romawi, yaitu penafsiran harfiah, midrash, pesher,
alegoris, dan tipelogis.
Kini boleh disimpulkan,
penafsiran orang Yahudi berkembang sejak Esra, kemudian sudah bertumbuh menjadi
sebagai kelompok pada abad pertama.
2.
Pola Penafsiran Tuhan Yesus dan Orang Kristen Abad
Pertama.
Sebagian pendirian dan penafsiran
Tuhan Yesus dapat dikenal melalui cara menafsir PL seperti:
1.
Tuhan Yesus percaya apa yang dicatat PL merupakan
fakta sejarah.
2.
Tuhan Yesus banyak memakai penafsiran pesher, dan
juga penafsiran harfiah dan midrash. Namun tidak ditemukan contoh yang
membuktikan pemakaian penafsiran alegoris.
3.
Tuhan Yesus menolak praktik pada zaman itu yang
sering mengganti firman Allah dengan Tradisi.
Tuhan Yesus dan para peulis PB
memang mengambil sikap baru dalam penafsiran mereka. Diri Tuhan Yesus dan
cara-Nya menafsir PL diterima orang Kristen sebagai sumber otoritas dan patokan
untuk memahami Alkitab.
Berkenaan dengan penafsiran orang Kristen abad pertama, pembaca
masa kini sering dirisaukan kutipan PL yang dibuat penulis PB, karena kutipan ini
tidak persis sama dengan PL. Hal ini terjadi karena:
1.
Pada zaman itu beredar beberapa versi terjemahan
Alkitab atau edisi Alkitab.
2.
Penulis PB biasanya tidak mengutip bagian dalam PL
kata demi kata.
3.
Mengutip PL secara bebas justru membuktikan,
penulis-penulis PB mengusai isi kitab yang mereka kutip.
Jadi boleh disimpulkan, penulis PB adalah
tokoh-tokoh yang setia dan hormat kepada PL.
3.
Penafsiran Alegoris Pada Masa Awal Kekristenan
Walaupun orang Kristen masa
awal mewarisi fondasi yang kukuh dari para rasul dan penulis PB, tetapi stuasi
pada zaman itu tidak mengijinkan mereka mengadakan penyelidikan lebih lanjut.
Tenaga dan perhatian mereka harus fokuskan kepenganiayaan yang datang dari
luar. Ditambah lagi banyaknya penulis dan cedikiawan yang bergabung dengan
agama Kristen mempunyai latar belakang Yunani. Ini membuat pengaruh penafsiran
alegoris. Ada beberapa sebab yang mendorong gereja zaman itu menerapkan
penafsiran alegoris. Salah satunya, gereja ingin melawan ajaran bidah yang
mulai muncul, diantaranya Marcionisme. Marcionisme (100-165) adalah seorang
pengajar bidah dari Asia Kecil yang mendirikan sektenya di Roma pada tahun 140.
Ia menolak PL, menerima sebagian kirab PB, dan tidak percaya bahwa Yesus adalah
Firman yang menjadi manusia. Ia percaya dengan pencipta yang ada di PL tidak
sama dengan Bapa yang diajarkan Yesus. Demi melawan ajaran bidah ini, bapa-bapa
gereja banyak memakai penafsiran alegoris. Namun, pada waktu yang sama secara
tidak sadar mereka juga memakai penafsiran harfiah.
Sebenarnya, ada unsur-unsur
yang positif pada penafsiran alegoris, tetapi beberapa kelemahannya sangat serius.
4.
Penafsiran Harafiah pada abad-abad pertama
Kurang tepat jika seorang
mengira bahwa dunia penafsiran Alkitab pada abad-abad pertama hanya dikuasai
penafsiran alegoris. Ada beberapa tokoh yang tidak mengambil pendekatan
alegoris, yaitu Ignatius dari Antiokhia (35-107), Irenaeus (130-202), murid
Polycarpus (70-155). Aliran Antiokhia mengembangkan penafsiran tipologis yang
lebih masuk akal atas PL untuk mengganti penafsiran alegoris. Mereka menekankan
pentingnya penafsiran yang memperhatikan makna harafiah dan historis.
5.
Pola Penafsiran Bapa-Bapa Gereja Latin dan Abad
Pertengahan
Pada umumnya Bapa-Bapa Gereja Latin mengambil jalan
tengah di antara aliran Alexandria dan aliran Antiokhia. Mereka cendrung
menekankan otoritas tradisi dan gereja dalam penafsiran Alkitab.
6.
Pola Penafsiran Pada Masa Renaisans, Reformasi, dan
Pascareformasi
Renaisans ditandai dengan bangkit
kembalinya perhatian kepada kesusahtraan klasik, berkembangnya kesenian dan
kesusastraan baru, dan tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Apa yang terjadi pada
masa ini memberi sedikitnya dua sumbangsih besar kepada hadirnya penafsiran
yang lebih sehat. Pertama, pembaca Alkitab diajak meninggalkan teologi dan
hierarki gereja. Kedua, bangkitnya perhatian baru terhadap karya sastra, budaya
orang Yunani dan Romawi.
Dengan latar belakang
Renaisans, khususnya humanisme, dimulailah Reformasi. Para reformator terkenal
dengan sikap mereka yang sangat menghormati Alkitab (Sola Scriptura). Menurut
mereka Alkitab sendirilah yang menafsir Alkitab. Ada dua orang reformator yang
patut dibahas lebih teliti yaitu, Martin Luter (1483-1516) dan Yohanes Calvin
(1509-1564).
Pada masa pascareformasi,
terjadi berbagai perpecahan dan muncul bermacam ajaran bidah dalam gereja. Selain
itu kekuatan rasional bertambah besar. Golongan ini makin mendapat angin pada
akhir abad ke-18. Zaman ini juga ditandai dengan berbagai usaha mencari salinan
kuno yang lebih baik. Para sarjana berusaha mengevaluasi dan mengklasifikasi
salinan kuno PB. Sedangkan penyelidikan PB terbentur kekurangan bahan.
7.
Pola Penafsiran Pada Abad Ke-19
Boleh dikatakan pengaruh aliran
rasionalisme menjadi puncaknya pada abad ke-19. Dimata sarjana aliran ini,
Alkitab bukan kitab yang berotoritas. Dengan sikap mengandalkan rasio manusia,
mereka mengkritik Alkitab.
8.
Pola Penafsiran Pada Tujuh Dekade Pertama Abad Ke-20
Dalam kurun waktu tujuh dekade
pertama abad ke-20, umat manusia mengalami perubahan yang dasyat. Ada sejumlah
besar orang Kristen menaruh perhatian kepada Alkitab, dan merasa perlu
menjalankan firman-Nya dalam kehidupannya sehari-hari. Abad ke-20 juga ditandai
dengan berkurangnya pengaruh gereja-gereja yang berada di eropa, dan bertambahnya
tumbangsih yang diberikan gereja-gereja yang ada di Amerika Utara. Kemudian,
gereja-gereja di Asia, disusul Afrika, setaham demi setaham mengambil peranan
yang lebih besar.
9.
Pola Penafsiran Pada Tiga Dekade Terakhir Abad Ke-20
Perkembangan penafsiran
biblikal yang terjadi dalam tiga dekade terakhir abad lalu cukup pesat,
dinamis, dan kompleks. Bersama dengan pola-pola baru ini, analisis yang sudah
dikenal selama ini pun terus berkembang dan maju.
Beberapa
macam Analisis yang selama ini dipakai secara luas:
1.
Analisi Salinan Kuno PL dan PB bertujuan mencari
salinan kuno Alkitab yang paling tepat.
2.
Analisis sumber bertujuan menganalisis ciri khas
sebuah kitab, untuk memperoleh informasi mengenai penulis kitab, tanggal
penulisan, serta lingkungan dan keadaan sekitar kitab tersebut.
3.
Ananlisis Tata Bahasa
4.
Analisis Latar Belakang
5.
Analisis Kesusastraan
6.
Analisis Tradisi
7.
Analisis Ragam dan Sastra
8.
Analisis Redaksi
KESIMPULAN:
Untuk menjadi seorang penafsir
Alkitab harus mempelajari perjalanan sejarah hermeneutik yang sangat panjang
bahkan lebih panjang dari sejarah gereja. Sejarah penafsiran yang sangat
panjang dari jaman Esra pada Perjanjian Lama sampai tiga dekade abad ke-20
mengingatkan kita bahwa munculnya analisis yang berbeda-beda dari zaman ke
zaman dan begitu mudahnya seorang penafsir menyalahgunakan penafsiran demi
tujuan tertentu. Bahkan sejak masa awal perkembangan penafsiran biblikal sudah
dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik, budaya, masyarakat dan semangat
mengabarkan injil. Pada zaman yang berbeda memberikan perbedaan dampak.
Sejarah hermeneutik ini menambah pengetahuan kita untuk menyimpulkan
suatu analisis baru dengan teliti karena pendidikan yang tinggi dan fasilitas
yang memadai tidak menutup kemungkinan dalam kekeliruan. Untuk itu seorang
penafsir yang baik harus lebih teliti dan harus menjadi berkat bagi umat Allah.
Label:
Meringkas Buku
21:15
Hasan Sutanto, Hermenutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: Gandum Mas, 2007), Hal. 3-95
1.
Materi
Hermeneutik
Hasan Sutanto,
Hermenutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: Gandum Mas,
2007), Hal. 3-95
Hermeneutik berperan penting
dalam Alkitab, karena merupakan disiplin yang memikirkan konsep-konsep,
prinsip-prinsip, dan hukum-hukum yang dipakai secara universal untuk memahami
dan menafsir Alkitab. Hermeneutik biblikal disingkat dengan hermenutik. Karena
dalam buku ini “hermeneutik” dipakai menunjuk penafsiran Alkitab orang Kristen,
maka hermeneutik dapat dibagi menjadi dua bagian yang lebih kecil, yaitu
hermeneutik Perjanjian Lama dan hermeneutik Perjanjian Baru. Atau dengan cara
pembagian yang lain, hermeneutik dapat dibagi menjadi yang bersifat umum dan
khusus. Yang umum membahas prinsip dan metode penafsiran yang umum dipakai
dalam penafsiran Alkitab, contohnya, Analisis Salinan Kuno atau analisis
Konteks. Sedangkan yang bersifat khusus membicarakan prinsip dan metode
penafsiran yang dipakai khusus pada ragam sastra tertentu, misalnya,
perumpamaan atau simbol. Seorang yang rajin dan setia menafsir akan menguasai
berbagai prinsip dan metode hermeneutik dengan cepat dan lebih baik daripada
mereka yang hanya mempelajari secara teoritis. Mata pelajaran hermeneutik
penting bagi pelajar, tetapi akan lebih berguna baginya kalau dia rajin
mempelajari Alkitab.
Pentingnya
hermeneutik karena hermeneutik berhubungan erat dengan Alkitab dan Alkitab
merupakan sumber utama umat Tuhan mengenal Allah. Hermeneutik berhubungan erat
dengan:
-
Alkitab yang yang menyelamatkan Manusia yang
tersesat (Roma 10:13,14),
-
Makanan rohani Orang Kristen (Matius 4:4; Yoh. 6:63)
-
Petunjuk Allah bagi orang Kristen (Maz. 119:105)
-
Senjata Rohani orang Kristen (Ibr. 4:12; Ef.
6:12-17)
-
Dasar teologi Agama Kristen
-
Dasar ajaran dan pelayanan berkhotbah dalam jemaat
Allah
-
Dasar harapan orang Kristen
-
Wahyu Allah tentang jemaat dan universum
-
Kitab yang sangat terkenal
-
Sulit dimengerti
Syarat-syarat menjadi seorang penafsir:
-
Seorang yang sudah dilahirkan kembali
-
Seorang yang memiliki sikap dan motivasi yang benar
-
Selalu memohon penerangan Roh Kudus (Yoh.16:13)
Sebelum menafsir Alkitab, seorang penafsir sebenarnya
sudah memiliki praanggapan, praanggapan yang dipegang inilah yang membedakan
seorang penafsir dengan penafsir lainnya. Penafsir harus berusaha memegang
praanggapan yang serasi dengan praanggapan yang dipegang penulis kitab. Dia
tidak boleh memaksakan praanggapannya pada penulis Alkitab. Sebaliknya,
praanggapan penulis Alkitab seharusnya menjadi dasar bagi penafsir untuk
memahami Alkitab.
Beberapa
kelemahan yang sering ditemukan dalam penafsiran Alkitab:
-
Tidak percaya Alkitab sebagai Firman Allah
-
Melalaikan bahasa aslinya
-
Memberi terlalu banyak makna atau perhatian kepada
suatu kata.
-
Melalaikan konteks
-
Kurang memperhatikan latar belakang
-
Hanya berfokus pada bagian-bagian tertentu dalam
Alkitab
-
Kurang memperhatikan ragam sastra
-
Memakai Alkitab untuk mencapai tujuan tertentu
-
Penafsiran harfiah yang kaku
-
Fantasi atau imajinasi yang tak terkontrol
KESIMPULAN:
Secara umum Hermeneutik
digunakan dalam berbagai bidang, namun bagi orang Kristen hermeneutik adalah
penafsiran Alkitab (hermeneutik biblikal) yang berperan penting untuk
mengetahui maksud Tuhan secara luas kepada umat lewat Alkitab. Alkitab terdiri
dari Perjanjian Lama dan Perjanjian baru maka dalam metode penfasirannya hermeneutik itu dibagi menjadi hermeneutik
Perjanjian Lama dan hermeneutik Perjanjian Baru. Untuk menjadi seorang penafsir
tidaklah mudah tidaklah jarang seorang penafsir melakukan kekeliruan yang
disebabkan seperti tidak percayanya seseorang penafsir bahwa Alkitab adalah
Firman Allah, hanya meyakini sekedar berisi Firman Allah sehingga dengan premis
dasar seperti ini membuat penafsiran ayat-ayat Alkitab menjadi tidak objektif.
Selain itu keterbatasan seseorang dengan pengetahuan bahasa asli Alkitab, menjadikan
penafsir sering melalaikan bahasa aslinya, penyebab lainnya adalah melalaikan
konteks, sejarah latar belakang, imajinasi yang tidak terkontrol dan masih
banyak lagi penyebabnya. Jadi penyebab kekeliruan init perlu diperhatikan. Tentu
untuk menjadi seorang penafsir harus memiliki syarat-syarat seperti sudah lahir
baru, bersikap dan bermotivasi yang benar dan yang paling penting selalu
memohon penerangan Roh Kudus.
Kita sebagai pelajar tidak
hanya mempelajari mata pelajaran hermeneutik tetapi jauh lebih penting langsung
mempraktekkannya dengan rajin mempelajari Alkitab.
Label:
Meringkas Buku,
Pengetahuan
21:14
INJIL YOHANES SEBAGAI CERITA (Robert Kysar)
PENDAHULUAN: PADA MULANYA (1:1-51)
Permulaan Kosmis (1:1-18)
Yohanes memulai ceritanya
tentang Yesus yang dimulai dari kalimat yang berasal dari kata “Pada
mulanya” artinya penulis
menceritakan tentang asal usul keberadaan
Sang Kristus itu sendiri berasal dari Firman dan Firman itu sendiri
yaitu Yesus perantara yang melalui-Nya Allah menciptakan segala sesuatu (1:3).
Penciptaan adalah permulaan penebusan dan penebusan adalah kelanjutan dari
penciptaan. Pada pasal 1:4 melanjutkan tema ini dengan menyebut sang
Kristus-Firman sebagai “Terang” dan “Kehidupan manusia”. Begitu pula dalam
Yoh 1:5 yang memperkenalkan Tema yang menonjol ayat ayat Prolog dari
seluruh Injil. Kemudian pembaca dialihkan untuk melihat bahwa Yohanes
Pembaptis bukanlah terang itu, melainkan saksi bagi terang itu (1:6-8).
Kehadiran sang Firman dalam pribadi historis Yesus dari Nazaret, menegaskan
bahwa Firman itu telah hadir di dalam dunia dan di antara manusia, tetapi
manusia menolak-Nya (1:9-11). Beberapa orang menerima Dia dan bagi mereka
diberikan kuasa yang menghubungkan mereka dengan Allah (1:12-14). Penggambaran
tentang permulaan kosmis dari cerita Yesus ini berakhir dengan sebuah
pengulangan tentang manfaat “keberkemahan” sang Kristus -Firman di dalam dunia.
“Jati diri” sesungguhnya dari Allah didekatkannya pada semua manusia melalui Kristus
(1:18).
Permulaan Historis (1:19-51)
Dalam pasal 1:19-51 Yohanes menggambarkan permulaan dari
peristiwa sejarah itu dengan cukup terinci, yang mencakup kesaksian Yohanes
Pembaptis tentang Yesus dan juga terhimpunnya orang-orang yang akan mengikut
Yesus dalam pelayanan-Nya, dan ini merupakan sebuah pengantar yang tepat bagi
keseluruhan Injil.
BAGIAN PERTAMA: YESUS MENYATAKAN KEMULIAAN (2:1-12:50)
Tanda-tanda dan ucapan-ucapan (2:1-5:47)
Dalam pasal 2-5 Yohanes menceritakan di dalam gabungan
tindakan-tindakan Yesus yang disertai dengan kata-kata-Nya. Tanda pertama adalah Tanda-tanda dari-Nya
(2:1-11), sebuah muzijat Yesus yang mengagumkan pada sebuah perjamuan kawin di
Kana, Galilea, dan bagaimana peristiwa itu telah memampukan para murid untuk
mempercayai Yesus (Tanda mengungkapkan kemuliaan yang menimbulkan Iman). Kedua, Bait Allah yang lama dan yang
baru (2:12-25), Yohanes menceritakan hal ini dalam sebuah narasi yang secara
tradisional disebut “penyucian Bait
Allah”. Ketiga, seorang pemimpin yang terpelajar menemui Yesus (3:1-21),
tema yang samar-samar muncul dalam percakapan antara Yesus dan Nikodemus,
kedatangan Nikodemus kepada Yesus di tengah kegelapan malam adalah bersifat
simbolis bagi Yohanes. Keempat,
Pendamping yang menghormati mempelai (3:22-36), menunjukkan hubungan antara
Yohanes Pembaptis dengan Yesus, yang menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis tidak
bisa melakukan lebih dari kesaksian, tetapi Yesus lebih banyak diberikan Allah.
Kelima, cerita tentang iman orang
samaria (4:1-42), merupakan sebuah kisah iman dari pertama seorang perempuan
Samaria dan kepada seluruh penduduk Samaria. Keenam, Iman dari seorang pegawai Istana: Tanda Kedua (4:43-54), iman seorang pegawai Istana yang memohon
kesembuhan kepada Yesus, mesiki ditolak tetapi dia tidak mau kehilangan
semangat dan memohon kembali pertolongan Yesus. Ketujuh, kewibawahan dan kesaksian:Tanda Ketiga (5:1-47), cerita tentang penyembuhan, percakapan
tentang pelanggaran hari Sabat yang dilakukan dalam penyembuhan itu, percakapan
hubungan antara Bapa dan Anak, dan kesaksian tentang Yesus.
Makanan Dunia dan Sorgawi 6:1-71
Menceritakan tentang perjalanan
Yesus dari Galelea ke Danau Tiberias dalam perjalanannya menuju Yesus melakukan beberapa mujizat sehingga
terjadilah perdebatan diantara Orang banyak . Dalam cerita ini Yohanees menjadi
prioritas pertama dalam cerita dan
menjadi titik temu yang diatasnya pasal
pemisahan, pembagian serta pertentangan yang dimolai dengan “Menyodorkan Drama”.
Tanda tanda ini mengantar sebuah perbincangan panjang yang diakhiri dengan kata
kata yang jelas, mengenai Iman yang goyah dan ketidak percayaan yang sangat
jelas. Pertama, makanan dunia dan
keajaiban di Laut: Tanda Keempat dan Kelima (6:1-21), dan Kedua, Roti hidup
:makanan Sorgawi (6:22-71).
Di Yerusalem 7:1-10:42
Gerakan ketidak percayaan dan
permusuhan yang makin memuncak terhadap Yesus menimbulkan konflik dengan
kemapaman keagamaan di Yerusalem (7:1-10:42), kemudian sampai kepada pembunuhan
Yesus (11:1-12:50). Inilah ketegangan antara iman dan ketidak percayaan, antara
iman yang terdampar pada sebuah pulau ditengah lautan ketidak percayaan. Ini
dituntut agar kita memahami di dalam tiga pasal terakhir ini.
Keputusan Tak Dapat Di Tarik Kembali (11:1-12:50)
Yohanes
menutup kisah pertama tentang Penderitaan Yesus
dengan tegas bahwa Yesus mendatangkan penghakiman untuk menuju Hidup
Kekal . Namun karena ketidak percayaan manusia
sehingga mengalami kebutaan secara Rohani dalam pasal 1-12 yang
diselesaikan dengan mengambil keputusan
untuk menghukum mati Yesus. Dalam kisah
ini Yohanes menuntun kita agar memahami apa yang Allah kerjakan didalam Yesus
.Yesus menyatakan Kemulyaan Allah yang mengakibatkan penderitaanNYA sehingga
Dia harus dihukum mati, tetapi dalam penderitaanNYA Dia menerima Kemulyaan
Allah.
BAGIAN KEDUA: YESUS MENERIMA KEMULIAAN (13:1-20:29)
Kasih dan Penolakan (13:1-38)
Kasih dan penolakan Yesus
dalam cerita pembasuhan Kaki dan penghianatan “Yudas” menjadi cerita
panjang. Setelah kepergian Yudas Yesus
mulai berbicara tentang penderitaanNYA (Yoh 13: 31-32) dan Yudas tidak perlu
mengetahui tentang Kematian, Kebangkitan dan KenaikanNyA, Yesus secara tidak
langsung member perintah kepada mereka, agar saling mengasihi sebagaimana Dia telah
mengasihi mereka serta pernyataan-Nya tentang “Anak manusia”. Kasih yang
diperintahkan oleh Yesus merupakan Kasih yang dipolakan pada sikap-Nya kepada
para Murid. Dalam Yoh 13:36-38 berbicara tentang kebejatan manusia, namun
Petrus yakin bahwa dia bisa mengikuti perjalanan Yesus dan siap mati bagi Yesus
(Martir) Namun disini Petrus menyangkal-Nya.
Kata-Kata Perpisahan (14:1-17:26)
Perpisahan yang Yohanes sampaikan mempunyai tujuan agar
para murid mendengarkan tema tema secara terus menerus. Dalam pasal 14,15 bahwa Yohanes sedang memperlihatkan sebuah
pengaturan tentang kepergian Yesus dan akibat kepergiannya, sikap para murid
tetap tinggal didalam Yesus sedangkan kepergiannya memberikan Jalan kepada
murid murid-Nya : Pertama Menjediakan
Jalan untuk mengenal Bapa, menyediakan tempat tinggal bersama Bapa (Yoh 14:1-2) pasal 17 berbicara tentang Doa
terahir dari Yesus. Yohenes sedang menggambarkan bahwa sebuah hubungan antara
orang orang percaya dengan Allah dan dengan Yesus Kristus yang sengaja mengikuti
pola antara Bapa dan Anak. Dalam kata perpisahannya mengajarkan kepada murid
tentang “Kesengsaraan Yesus sudah tiba”.
Peninggian 18:1-20:29
Dalam babak terakhir cerita Yohanes tentang Yesus adalah
bahwa Yesus sendiri sebagai seorang manusia menderita dan mati sama seperti
manusia. Penghakiman terhadap Yesus merupakan bagian awal dari penderitaan
Yesus yang membawa penebusan dosa umat manusia, disini Yesus menyatakan
Kedaulatannya, serta Yohanes melihat Salip sebagai penghakiman dan penebusan dosa.
Salip dan Kebangkitan merupakan Kemulyaan Yesus, berarti Allah memberikan
Kemulyaan dan Peninggian-Nya”. Cerita Yohanes pertama-tama diceritakan supaya
kabar baik tentang tindakan Allah di dalam Kristus dapat diungkapkan
terus-menerus angkatan demi angkatan.
Label:
Meringkas Buku,
Pengetahuan





