Powered by Blogger.
Latest Post

Sejarah Singkat Hermeneutik (Hasan Sutanto)



1.    Sejarah Singkat Hermeneutik
Hasan Sutanto, Hermenutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: Gandum Mas, 2007), Hal. 97-213

Penafsir Alkitab perlu mempelajari sejarah hermeneutik, karena pada dasarnya seorang penafsir tidak telepas dari pendahulunya, sejarah heremeneutik juga mengajar penafsir masa kini bersikap rendah hati, dan tidak mudah merasa puas, sejarah Alkitab juga menunjukkan bahwa sejak masa yang amat awal sudah ada yang mempengaruhi perkembangan penafsiran biblikal.
Dalam sejarah penafsiran Alkitab terdapat pola penafsiran yang yang berbeda-beda sepanjang zamannya yaitu:
1.      Pola penafsiran orang Yahudi: dari Ezra sampai zaman Tuhan Yesus
Kitab-kitab yang di kanon dalam kehidupan Yahudi pada tahun 621 SM disebut Tanak yang terdiri dari Torah dan Ketuvim. Untuk lebih mengenal penafsiran orang Yahudi, Ezra adalah tokoh yang hidup pada abad ke-5 SM. Ezra adalah ahli Taurat atau Ahli Kitab, Dia boleh dipandang sebagai pelopor penafsiran pada zaman itu. Pekerjaannya adalah mengajar dan menerjemah karena banyak orang Yahudi hanya menguasai bahasa Aram dan tidak mengerti bahasa Ibrani. Akibat dari banyaknya penindasan dan kebobrokan moral pada saat itu sehingga mereka sangat membutuhkan hiburan dan kekuatan dari Kitab Suci.
Pada tahun 323 SM, orang Yahudi berada dibawah kekuasaan Ptolemy I, jenderal yang diutus oleh Aleksandria, tahun 167 SM mereka boleh menikmati kebebasan pada zaman Makabe, dan pada tahun 63 SM, bangsa ini dukuasai orang Romawi. Faktor ini menumbuhkan berbagai penafsiran yang dapat disaksikan Karya Sastra zaman itu, beberapa karya sastra yang patut disebutkan adalah Septuaginta (LXX), karya Philo, Kitab Gulungan Laut Mati, Targum, midrash, kitab Apokrifa dan Pseudepigrafa orang Yahudi. Dengan pengenalan seperti ini, boleh dikatakan paling tidak ada lima pendekatan yang populer pada masa Yahudi-Romawi, yaitu penafsiran harfiah, midrash, pesher, alegoris, dan tipelogis.
Kini boleh disimpulkan, penafsiran orang Yahudi berkembang sejak Esra, kemudian sudah bertumbuh menjadi sebagai kelompok pada abad pertama.

2.      Pola Penafsiran Tuhan Yesus dan Orang Kristen Abad Pertama.
Sebagian pendirian dan penafsiran Tuhan Yesus dapat dikenal melalui cara menafsir PL seperti:
1.      Tuhan Yesus percaya apa yang dicatat PL merupakan fakta sejarah.
2.      Tuhan Yesus banyak memakai penafsiran pesher, dan juga penafsiran harfiah dan midrash. Namun tidak ditemukan contoh yang membuktikan pemakaian penafsiran alegoris.
3.      Tuhan Yesus menolak praktik pada zaman itu yang sering mengganti firman Allah dengan Tradisi.
Tuhan Yesus dan para peulis PB memang mengambil sikap baru dalam penafsiran mereka. Diri Tuhan Yesus dan cara-Nya menafsir PL diterima orang Kristen sebagai sumber otoritas dan patokan untuk memahami Alkitab.
      Berkenaan dengan penafsiran orang Kristen abad pertama, pembaca masa kini sering dirisaukan kutipan PL yang dibuat penulis PB, karena kutipan ini tidak persis sama dengan PL. Hal ini terjadi karena:
1.      Pada zaman itu beredar beberapa versi terjemahan Alkitab atau edisi Alkitab.
2.      Penulis PB biasanya tidak mengutip bagian dalam PL kata demi kata.
3.      Mengutip PL secara bebas justru membuktikan, penulis-penulis PB mengusai isi kitab yang mereka kutip.
Jadi boleh disimpulkan, penulis PB adalah tokoh-tokoh yang setia dan hormat kepada PL.

3.        Penafsiran Alegoris Pada Masa Awal Kekristenan
Walaupun orang Kristen masa awal mewarisi fondasi yang kukuh dari para rasul dan penulis PB, tetapi stuasi pada zaman itu tidak mengijinkan mereka mengadakan penyelidikan lebih lanjut. Tenaga dan perhatian mereka harus fokuskan kepenganiayaan yang datang dari luar. Ditambah lagi banyaknya penulis dan cedikiawan yang bergabung dengan agama Kristen mempunyai latar belakang Yunani. Ini membuat pengaruh penafsiran alegoris. Ada beberapa sebab yang mendorong gereja zaman itu menerapkan penafsiran alegoris. Salah satunya, gereja ingin melawan ajaran bidah yang mulai muncul, diantaranya Marcionisme. Marcionisme (100-165) adalah seorang pengajar bidah dari Asia Kecil yang mendirikan sektenya di Roma pada tahun 140. Ia menolak PL, menerima sebagian kirab PB, dan tidak percaya bahwa Yesus adalah Firman yang menjadi manusia. Ia percaya dengan pencipta yang ada di PL tidak sama dengan Bapa yang diajarkan Yesus. Demi melawan ajaran bidah ini, bapa-bapa gereja banyak memakai penafsiran alegoris. Namun, pada waktu yang sama secara tidak sadar mereka juga memakai penafsiran harfiah.
Sebenarnya, ada unsur-unsur yang positif pada penafsiran alegoris, tetapi beberapa kelemahannya sangat serius.

4.        Penafsiran Harafiah pada abad-abad pertama
Kurang tepat jika seorang mengira bahwa dunia penafsiran Alkitab pada abad-abad pertama hanya dikuasai penafsiran alegoris. Ada beberapa tokoh yang tidak mengambil pendekatan alegoris, yaitu Ignatius dari Antiokhia (35-107), Irenaeus (130-202), murid Polycarpus (70-155). Aliran Antiokhia mengembangkan penafsiran tipologis yang lebih masuk akal atas PL untuk mengganti penafsiran alegoris. Mereka menekankan pentingnya penafsiran yang memperhatikan makna harafiah dan historis.
5.        Pola Penafsiran Bapa-Bapa Gereja Latin dan Abad Pertengahan
Pada umumnya Bapa-Bapa Gereja Latin mengambil jalan tengah di antara aliran Alexandria dan aliran Antiokhia. Mereka cendrung menekankan otoritas tradisi dan gereja dalam penafsiran Alkitab. 

6.        Pola Penafsiran Pada Masa Renaisans, Reformasi, dan Pascareformasi
Renaisans ditandai dengan bangkit kembalinya perhatian kepada kesusahtraan klasik, berkembangnya kesenian dan kesusastraan baru, dan tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Apa yang terjadi pada masa ini memberi sedikitnya dua sumbangsih besar kepada hadirnya penafsiran yang lebih sehat. Pertama, pembaca Alkitab diajak meninggalkan teologi dan hierarki gereja. Kedua, bangkitnya perhatian baru terhadap karya sastra, budaya orang Yunani dan Romawi.
Dengan latar belakang Renaisans, khususnya humanisme, dimulailah Reformasi. Para reformator terkenal dengan sikap mereka yang sangat menghormati Alkitab (Sola Scriptura). Menurut mereka Alkitab sendirilah yang menafsir Alkitab. Ada dua orang reformator yang patut dibahas lebih teliti yaitu, Martin Luter (1483-1516) dan Yohanes Calvin (1509-1564).
Pada masa pascareformasi, terjadi berbagai perpecahan dan muncul bermacam ajaran bidah dalam gereja. Selain itu kekuatan rasional bertambah besar. Golongan ini makin mendapat angin pada akhir abad ke-18. Zaman ini juga ditandai dengan berbagai usaha mencari salinan kuno yang lebih baik. Para sarjana berusaha mengevaluasi dan mengklasifikasi salinan kuno PB. Sedangkan penyelidikan PB terbentur kekurangan bahan.

7.        Pola Penafsiran Pada Abad Ke-19
Boleh dikatakan pengaruh aliran rasionalisme menjadi puncaknya pada abad ke-19. Dimata sarjana aliran ini, Alkitab bukan kitab yang berotoritas. Dengan sikap mengandalkan rasio manusia, mereka mengkritik Alkitab.

8.        Pola Penafsiran Pada Tujuh Dekade Pertama Abad Ke-20
Dalam kurun waktu tujuh dekade pertama abad ke-20, umat manusia mengalami perubahan yang dasyat. Ada sejumlah besar orang Kristen menaruh perhatian kepada Alkitab, dan merasa perlu menjalankan firman-Nya dalam kehidupannya sehari-hari. Abad ke-20 juga ditandai dengan berkurangnya pengaruh gereja-gereja yang berada di eropa, dan bertambahnya tumbangsih yang diberikan gereja-gereja yang ada di Amerika Utara. Kemudian, gereja-gereja di Asia, disusul Afrika, setaham demi setaham mengambil peranan yang lebih besar.

9.        Pola Penafsiran Pada Tiga Dekade Terakhir Abad Ke-20
Perkembangan penafsiran biblikal yang terjadi dalam tiga dekade terakhir abad lalu cukup pesat, dinamis, dan kompleks. Bersama dengan pola-pola baru ini, analisis yang sudah dikenal selama ini pun terus berkembang dan maju.
            Beberapa macam Analisis yang selama ini dipakai secara luas:
1.      Analisi Salinan Kuno PL dan PB bertujuan mencari salinan kuno Alkitab yang paling tepat.
2.      Analisis sumber bertujuan menganalisis ciri khas sebuah kitab, untuk memperoleh informasi mengenai penulis kitab, tanggal penulisan, serta lingkungan dan keadaan sekitar kitab tersebut.
3.      Ananlisis Tata Bahasa
4.      Analisis Latar Belakang
5.      Analisis Kesusastraan
6.      Analisis Tradisi
7.      Analisis Ragam dan Sastra
8.      Analisis Redaksi

KESIMPULAN:
Untuk menjadi seorang penafsir Alkitab harus mempelajari perjalanan sejarah hermeneutik yang sangat panjang bahkan lebih panjang dari sejarah gereja. Sejarah penafsiran yang sangat panjang dari jaman Esra pada Perjanjian Lama sampai tiga dekade abad ke-20 mengingatkan kita bahwa munculnya analisis yang berbeda-beda dari zaman ke zaman dan begitu mudahnya seorang penafsir menyalahgunakan penafsiran demi tujuan tertentu. Bahkan sejak masa awal perkembangan penafsiran biblikal sudah dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik, budaya, masyarakat dan semangat mengabarkan injil. Pada zaman yang berbeda memberikan perbedaan dampak.
Sejarah hermeneutik ini menambah pengetahuan kita untuk menyimpulkan suatu analisis baru dengan teliti karena pendidikan yang tinggi dan fasilitas yang memadai tidak menutup kemungkinan dalam kekeliruan. Untuk itu seorang penafsir yang baik harus lebih teliti dan harus menjadi berkat bagi umat Allah.

Hasan Sutanto, Hermenutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: Gandum Mas, 2007), Hal. 3-95



1.    Materi Hermeneutik
Hasan Sutanto, Hermenutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: Gandum Mas, 2007), Hal. 3-95

Hermeneutik berperan penting dalam Alkitab, karena merupakan disiplin yang memikirkan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan hukum-hukum yang dipakai secara universal untuk memahami dan menafsir Alkitab. Hermeneutik biblikal disingkat dengan hermenutik. Karena dalam buku ini “hermeneutik” dipakai menunjuk penafsiran Alkitab orang Kristen, maka hermeneutik dapat dibagi menjadi dua bagian yang lebih kecil, yaitu hermeneutik Perjanjian Lama dan hermeneutik Perjanjian Baru. Atau dengan cara pembagian yang lain, hermeneutik dapat dibagi menjadi yang bersifat umum dan khusus. Yang umum membahas prinsip dan metode penafsiran yang umum dipakai dalam penafsiran Alkitab, contohnya, Analisis Salinan Kuno atau analisis Konteks. Sedangkan yang bersifat khusus membicarakan prinsip dan metode penafsiran yang dipakai khusus pada ragam sastra tertentu, misalnya, perumpamaan atau simbol. Seorang yang rajin dan setia menafsir akan menguasai berbagai prinsip dan metode hermeneutik dengan cepat dan lebih baik daripada mereka yang hanya mempelajari secara teoritis. Mata pelajaran hermeneutik penting bagi pelajar, tetapi akan lebih berguna baginya kalau dia rajin mempelajari Alkitab.
            Pentingnya hermeneutik karena hermeneutik berhubungan erat dengan Alkitab dan Alkitab merupakan sumber utama umat Tuhan mengenal Allah. Hermeneutik berhubungan erat dengan:
-          Alkitab yang yang menyelamatkan Manusia yang tersesat (Roma 10:13,14),
-          Makanan rohani Orang Kristen (Matius 4:4; Yoh. 6:63)
-          Petunjuk Allah bagi orang Kristen (Maz. 119:105)
-          Senjata Rohani orang Kristen (Ibr. 4:12; Ef. 6:12-17)
-          Dasar teologi Agama Kristen
-          Dasar ajaran dan pelayanan berkhotbah dalam jemaat Allah
-          Dasar harapan orang Kristen
-          Wahyu Allah tentang jemaat dan universum
-          Kitab yang sangat terkenal
-          Sulit dimengerti
Syarat-syarat menjadi seorang penafsir:
-          Seorang yang sudah dilahirkan kembali
-          Seorang yang memiliki sikap dan motivasi yang benar
-          Selalu memohon penerangan Roh Kudus (Yoh.16:13)
Sebelum menafsir Alkitab, seorang penafsir sebenarnya sudah memiliki praanggapan, praanggapan yang dipegang inilah yang membedakan seorang penafsir dengan penafsir lainnya. Penafsir harus berusaha memegang praanggapan yang serasi dengan praanggapan yang dipegang penulis kitab. Dia tidak boleh memaksakan praanggapannya pada penulis Alkitab. Sebaliknya, praanggapan penulis Alkitab seharusnya menjadi dasar bagi penafsir untuk memahami Alkitab.
            Beberapa kelemahan yang sering ditemukan dalam penafsiran Alkitab:
-          Tidak percaya Alkitab sebagai Firman Allah
-          Melalaikan bahasa aslinya
-          Memberi terlalu banyak makna atau perhatian kepada suatu kata.
-          Melalaikan konteks
-          Kurang memperhatikan latar belakang
-          Hanya berfokus pada bagian-bagian tertentu dalam Alkitab
-          Kurang memperhatikan ragam sastra
-          Memakai Alkitab untuk mencapai tujuan tertentu
-          Penafsiran harfiah yang kaku
-          Fantasi atau imajinasi yang tak terkontrol


KESIMPULAN:
Secara umum Hermeneutik digunakan dalam berbagai bidang, namun bagi orang Kristen hermeneutik adalah penafsiran Alkitab (hermeneutik biblikal) yang berperan penting untuk mengetahui maksud Tuhan secara luas kepada umat lewat Alkitab. Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian baru maka dalam metode penfasirannya  hermeneutik itu dibagi menjadi hermeneutik Perjanjian Lama dan hermeneutik Perjanjian Baru. Untuk menjadi seorang penafsir tidaklah mudah tidaklah jarang seorang penafsir melakukan kekeliruan yang disebabkan seperti tidak percayanya seseorang penafsir bahwa Alkitab adalah Firman Allah, hanya meyakini sekedar berisi Firman Allah sehingga dengan premis dasar seperti ini membuat penafsiran ayat-ayat Alkitab menjadi tidak objektif. Selain itu keterbatasan seseorang dengan pengetahuan bahasa asli Alkitab, menjadikan penafsir sering melalaikan bahasa aslinya, penyebab lainnya adalah melalaikan konteks, sejarah latar belakang, imajinasi yang tidak terkontrol dan masih banyak lagi penyebabnya. Jadi penyebab kekeliruan init perlu diperhatikan. Tentu untuk menjadi seorang penafsir harus memiliki syarat-syarat seperti sudah lahir baru, bersikap dan bermotivasi yang benar dan yang paling penting selalu memohon penerangan Roh Kudus.
Kita sebagai pelajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran hermeneutik tetapi jauh lebih penting langsung mempraktekkannya dengan rajin mempelajari Alkitab.

INJIL YOHANES SEBAGAI CERITA (Robert Kysar)





PENDAHULUAN: PADA MULANYA (1:1-51)

Permulaan Kosmis (1:1-18)
Yohanes memulai ceritanya tentang Yesus yang dimulai dari kalimat yang berasal  dari kata “Pada mulanya”  artinya penulis menceritakan tentang asal usul keberadaan  Sang Kristus itu sendiri berasal dari Firman dan Firman itu sendiri yaitu Yesus perantara yang melalui-Nya Allah menciptakan segala sesuatu (1:3). Penciptaan adalah permulaan penebusan dan penebusan adalah kelanjutan dari penciptaan. Pada pasal 1:4 melanjutkan tema ini dengan menyebut sang Kristus-Firman sebagai “Terang” dan “Kehidupan manusia”. Begitu pula dalam Yoh 1:5 yang memperkenalkan Tema yang menonjol ayat ayat Prolog  dari  seluruh Injil. Kemudian pembaca dialihkan untuk melihat bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah terang itu, melainkan saksi bagi terang itu (1:6-8). Kehadiran sang Firman dalam pribadi historis Yesus dari Nazaret, menegaskan bahwa Firman itu telah hadir di dalam dunia dan di antara manusia, tetapi manusia menolak-Nya (1:9-11). Beberapa orang menerima Dia dan bagi mereka diberikan kuasa yang menghubungkan mereka dengan Allah (1:12-14). Penggambaran tentang permulaan kosmis dari cerita Yesus ini berakhir dengan sebuah pengulangan tentang manfaat “keberkemahan” sang Kristus -Firman di dalam dunia. “Jati diri” sesungguhnya dari Allah didekatkannya pada semua manusia melalui Kristus (1:18).

Permulaan Historis (1:19-51)
            Dalam pasal 1:19-51 Yohanes menggambarkan permulaan dari peristiwa sejarah itu dengan cukup terinci, yang mencakup kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus dan juga terhimpunnya orang-orang yang akan mengikut Yesus dalam pelayanan-Nya, dan ini merupakan sebuah pengantar yang tepat bagi keseluruhan Injil.

BAGIAN PERTAMA: YESUS MENYATAKAN KEMULIAAN (2:1-12:50)

Tanda-tanda dan ucapan-ucapan (2:1-5:47)
            Dalam pasal 2-5 Yohanes menceritakan di dalam gabungan tindakan-tindakan Yesus yang disertai dengan kata-kata-Nya. Tanda pertama adalah Tanda-tanda dari-Nya (2:1-11), sebuah muzijat Yesus yang mengagumkan pada sebuah perjamuan kawin di Kana, Galilea, dan bagaimana peristiwa itu telah memampukan para murid untuk mempercayai Yesus (Tanda mengungkapkan kemuliaan yang menimbulkan Iman). Kedua, Bait Allah yang lama dan yang baru (2:12-25), Yohanes menceritakan hal ini dalam sebuah narasi yang secara tradisional disebut “penyucian Bait Allah”. Ketiga, seorang pemimpin yang terpelajar menemui Yesus (3:1-21), tema yang samar-samar muncul dalam percakapan antara Yesus dan Nikodemus, kedatangan Nikodemus kepada Yesus di tengah kegelapan malam adalah bersifat simbolis bagi Yohanes. Keempat, Pendamping yang menghormati mempelai (3:22-36), menunjukkan hubungan antara Yohanes Pembaptis dengan Yesus, yang menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis tidak bisa melakukan lebih dari kesaksian, tetapi Yesus lebih banyak diberikan Allah. Kelima, cerita tentang iman orang samaria (4:1-42), merupakan sebuah kisah iman dari pertama seorang perempuan Samaria dan kepada seluruh penduduk Samaria. Keenam, Iman dari seorang pegawai Istana: Tanda Kedua (4:43-54), iman seorang pegawai Istana yang memohon kesembuhan kepada Yesus, mesiki ditolak tetapi dia tidak mau kehilangan semangat dan memohon kembali pertolongan Yesus. Ketujuh, kewibawahan dan kesaksian:Tanda Ketiga (5:1-47), cerita tentang penyembuhan, percakapan tentang pelanggaran hari Sabat yang dilakukan dalam penyembuhan itu, percakapan hubungan antara Bapa dan Anak, dan kesaksian tentang Yesus.

Makanan Dunia dan Sorgawi 6:1-71
Menceritakan tentang perjalanan Yesus dari Galelea ke Danau Tiberias dalam perjalanannya menuju  Yesus melakukan beberapa mujizat sehingga terjadilah perdebatan diantara Orang banyak . Dalam cerita ini Yohanees menjadi prioritas pertama  dalam cerita dan menjadi titik temu yang  diatasnya pasal pemisahan, pembagian serta pertentangan yang dimolai dengan “Menyodorkan Drama”. Tanda tanda ini mengantar sebuah perbincangan panjang yang diakhiri dengan kata kata yang jelas, mengenai Iman yang goyah dan ketidak percayaan yang sangat jelas. Pertama, makanan dunia dan keajaiban di Laut: Tanda Keempat dan Kelima (6:1-21), dan Kedua, Roti hidup :makanan Sorgawi (6:22-71).

Di Yerusalem 7:1-10:42
            Gerakan ketidak percayaan dan permusuhan yang makin memuncak terhadap Yesus menimbulkan konflik dengan kemapaman keagamaan di Yerusalem (7:1-10:42), kemudian sampai kepada pembunuhan Yesus (11:1-12:50). Inilah ketegangan antara iman dan ketidak percayaan, antara iman yang terdampar pada sebuah pulau ditengah lautan ketidak percayaan. Ini dituntut agar kita memahami di dalam tiga pasal terakhir ini.

Keputusan Tak Dapat Di Tarik Kembali (11:1-12:50)
                  Yohanes menutup kisah pertama tentang Penderitaan Yesus  dengan tegas bahwa Yesus mendatangkan penghakiman untuk menuju Hidup Kekal . Namun karena ketidak percayaan manusia  sehingga mengalami kebutaan secara Rohani dalam pasal 1-12 yang diselesaikan dengan  mengambil keputusan untuk menghukum mati Yesus. Dalam  kisah ini Yohanes menuntun kita agar memahami apa yang Allah kerjakan didalam Yesus .Yesus menyatakan Kemulyaan Allah yang mengakibatkan penderitaanNYA sehingga Dia harus dihukum mati, tetapi dalam penderitaanNYA Dia menerima Kemulyaan Allah.

 BAGIAN KEDUA: YESUS MENERIMA KEMULIAAN (13:1-20:29)
Kasih dan Penolakan (13:1-38)
            Kasih dan penolakan Yesus  dalam cerita pembasuhan Kaki dan penghianatan “Yudas” menjadi cerita panjang. Setelah kepergian Yudas  Yesus mulai berbicara tentang penderitaanNYA (Yoh 13: 31-32) dan Yudas tidak perlu mengetahui tentang Kematian, Kebangkitan dan KenaikanNyA, Yesus secara tidak langsung member perintah kepada mereka, agar saling mengasihi sebagaimana Dia telah mengasihi mereka serta pernyataan-Nya tentang “Anak manusia”. Kasih yang diperintahkan oleh Yesus merupakan Kasih yang dipolakan pada sikap-Nya kepada para Murid. Dalam Yoh 13:36-38 berbicara tentang kebejatan manusia, namun Petrus yakin bahwa dia bisa mengikuti perjalanan Yesus dan siap mati bagi Yesus (Martir) Namun disini Petrus menyangkal-Nya.

Kata-Kata Perpisahan (14:1-17:26)
            Perpisahan yang Yohanes sampaikan mempunyai tujuan agar para murid mendengarkan tema tema secara terus menerus. Dalam pasal 14,15  bahwa Yohanes sedang memperlihatkan sebuah pengaturan tentang kepergian Yesus dan akibat kepergiannya, sikap para murid tetap tinggal didalam Yesus sedangkan kepergiannya memberikan Jalan kepada murid murid-Nya  : Pertama Menjediakan Jalan untuk mengenal Bapa, menyediakan tempat tinggal bersama Bapa  (Yoh 14:1-2) pasal 17 berbicara tentang Doa terahir dari Yesus. Yohenes sedang menggambarkan bahwa sebuah hubungan antara orang orang percaya dengan Allah dan dengan Yesus Kristus yang sengaja mengikuti pola antara Bapa dan Anak. Dalam kata perpisahannya mengajarkan kepada murid tentang “Kesengsaraan Yesus sudah tiba”.

Peninggian 18:1-20:29
            Dalam babak terakhir cerita Yohanes tentang Yesus adalah bahwa Yesus sendiri sebagai seorang manusia menderita dan mati sama seperti manusia. Penghakiman terhadap Yesus merupakan bagian awal dari penderitaan Yesus yang membawa penebusan dosa umat manusia, disini Yesus menyatakan Kedaulatannya, serta Yohanes melihat Salip sebagai penghakiman dan penebusan dosa. Salip dan Kebangkitan merupakan Kemulyaan Yesus, berarti Allah memberikan Kemulyaan dan Peninggian-Nya”. Cerita Yohanes pertama-tama diceritakan supaya kabar baik tentang tindakan Allah di dalam Kristus dapat diungkapkan terus-menerus angkatan demi angkatan.
 
Supported by: Blogger | Blogger.com
Copyright © 2014. Rumah Pelayanan - All Rights Reserved
WWW . RUMAHPELAYANAN . COM